Deskripsi
Menjadi mahasantri berarti menjalani kehidupan di antara dua lingkungan yang memiliki tradisi, tuntutan, dan cara berinteraksi yang berbeda. Di satu sisi terdapat dunia perguruan tinggi dengan kehidupan akademik, pengetahuan, dan teknologi; di sisi lain terdapat pesantren dengan tradisi keilmuan, nilai, kebiasaan, dan kehidupan komunitas. Namun, keduanya tidak selalu hadir sebagai dua dunia yang terpisah. Dalam kehidupan mahasantri, keduanya bertemu, berinteraksi, dan membentuk pengalaman baru.
Semiotika Mahasantri mengajak pembaca melihat pertemuan tersebut melalui perspektif semiotika. Dengan pendekatan kritis, reflektif, dan kontekstual, penulis membahas bagaimana identitas terbentuk, bagaimana praktik kehidupan memperoleh makna, bagaimana bahasa, benda, ruang, tubuh, dan teknologi menjadi bagian dari representasi, serta bagaimana makna dapat dipertahankan, dinegosiasikan, atau berubah dalam konteks sosial dan budaya.
Alih-alih mencari makna tersembunyi di balik setiap tanda, buku ini menawarkan cara membaca kehidupan secara lebih kritis dan kontekstual. Tanda tidak pernah berdiri sendiri; makna lahir melalui hubungan antara pengalaman, kebudayaan, konteks, dan proses interpretasi.
Sebuah buku untuk memahami mahasantri dengan lebih dekat, bukan melalui stereotip, tetapi melalui pengalaman, konteks, dan makna yang terus dinegosiasikan.

Ulasan
Belum ada ulasan.